novi puspita widiananda

satu untuk semua

Pages


I.              Topik percobaan : “Mengamati Pembakaran Lilin
II.           Tujuan percobaan :
v ­ Mengamati lilin sebelum dibakar, saat dibakar, dan setelah dibakar
v Membuktikan adanya perubahan Fisika dan Kimia pada lilin
III.        Dasar Teori
            Materi adalah sesuatu yang menempati ruang dan menempati massa. Materi sering juga disebut zat atau bahan. Istilah zat digunakan untuk sejumlah materi yang sangat spesifik (tertentu) sifat-sifatnya, contohnya gula, garam dapur, air dan sebagainya. Istilah bahan digunakan untuk sejumlah materi yang kurang spesifik, contohnya kayu, beras, kertas, sirop dan sebagainya. Materi di alam terdapat dalam tiga wujud, yaitu wujud gas, padat dan cair, contoh air dapat berwujud cair, gas (uap air) dan padat (es). Setiap materi mempunyai sifat-sifat yang berbeda. Materi juga mengalami perubahan :
1)        Perubahan Fisika
Setiap materi akan mengalami perubahan. Perubahan materi meliputi:
Perubahan fisika, yaitu perubahan materi yang tidak menghasilkan zat baru.
Misalnya lilin dipanaskan, batu es mencair, besi meleleh, dan lain-lain.
Pada umumnya perubahan fisika hanya mengalami perubahan wujud dan yang disertai dengan perubahan energi. Perubahan fisika terjadi karena materi memiliki sifat fisika. Perubahan fisika tidak mengubah sifat zat tersebut. Dengan kata lain, perubahan fisika tidak menghasilkan senyawa baru. Perubahan pada zat yang tidak menghasilkan zat baru, tetapi disertai terjadinya perubahan bentuk, wujud dan warna.
Ciri-ciri perubahan fisis :
-       Hanya sifat-sifat fisisnya yang berubah, sedangkan sifat-sifat kimianya tetap
-       Susunannya tidak berubah
-       Jenis zatnya tidak berubah
Contoh:
Perubahan bentuk :
Benang diubah menjadi kain
Kayu diubah menjadi mebel
Gula dijadikan sirup atau gula yang larut dalam air, yang disebut pelarutan zat
Perubahan wujud
Kapur barus menyublim
Lilin meleleh
Es krim mencair
Penguapan minyak wangi
Perubahan fisika dalam kehidupan sehari-hari dapat terjadi karena adanya perubahan wujud, pelarutan, adanya perubahan bentuk, dan aliran energi. Perubahan Fisika karena Perubahan Wujud  setiap materi yang berubah wujud karena pengaruh pemanasan akan mempunyai sifat yang sama. Materi tersebut juga dapat dikembalikan ke sifatnya semula. Perubahan fisika karena perubahan wujud adalah pelelehan, peleburan, pencairan, penguapan, pengembunan, pembekuan, penyubliman, dan terdeposisi. Contoh-Contoh Perubahan Fisika karena Perubahan Wujud dalam Kehidupan Sehari-hari. Perubahan Wujud
-          Pelelehan atau peleburan
-          Lilin meleleh, karet meleleh, peleburan besi,
-          peleburan aluminium
-          Pencairan
-          Es mencair, salju mencair
-          Penguapan
-          Air laut menguap, eter menguap, minyak
-          kayu putih menguap
-          Pengembunan
-          Uap ari mengembun
-          Pembekuan
-          Air membeku, minyak membeku, agar-agar
-          membeku
-          Penyubliman
a)    Perubahan Fisika karena Pelarutan
          Sifat gula yang dilarutkan dalam air seperti rasa manis masih tetap tampak jika larutan gula diuapkan. akan diperoleh kembali gula dengan sifat manis yang sama. Proses pembuatan sirop, cuka, dan alkohol 70 % merupakan. contoh perubahan fisika.
b)   Perubahan Fisika karena Perubahan Bentuk
            Termasuk perubahan apakah kayu yang di gergaji, kemudian di ubah menjadi kursi atau lemari. Perubahan materi dan kayu menjadi kursi termasuk perubahan fisika. Hal ini karena kayu hanya berubah bentuknya saja. Adapun sifatnya tidak berubah. Sifat kursi atau meja sama dengan kayu. Begitupun dengan perubahan kayu gelondongan menjadi kayu lembaran, batang bambu menjadi angklung, kertas menjadi kapal- kapalan, dan kain menjadi pakaian.


c)    Perubahan Fisika karena Adanya Aliran Energi
Perhatikan lampu bohlam di rumahmu. Ketika saklar dinyalakan, kawat wolfram dalam lampu tersebut menyala dan menerangi seluruh ruangan. Begitu juga saat tombol bel ditekan, bel akan berdering dengan keras. Apa yang terjadi ketika setrika listrik dihubungkan dengan arus listrik? Bagian dasar setrika akan memanas, bukan? Termasuk perubahan apakah lampu bohlam menyala, bel berdering, dan setrika listrik memanas? Perubahan ini dikarenakan adanya aliran energi. Pada lampu bohlam, kawat wolfram tidak mengalami perubahan. Lampu bohlam hanya mengubah energi listrik menjadi energi cahaya, kumparan bel listrik hanya mengubah dan energi listrik menjadi energi gerak sehingga menimbulkan suara. Elemen pada setrika listrik hanya mengubah energi listrik menjadi energi panas. Jadi, ketiganya merupakan perubahan fisika karena pada perubahan mi materi hanya bertindak sebagai penghantar aliran energi.
2)        Perubahan Kimia
Arang hasil pembakaran gula tidak dapat di kembalikan menjadi gula. Demikian juga pada pembakaran kertas,  kertas yang terbakar,  lilin meleleh dan kertas terbakar menghasilkan abu, asap, dan gas. Zat-zat hasil pembakaran kertas tersebut tidak dapat di kembalikan menjadi kertas. Bagaimana dengan lilin yang terbakar? Pada pembakaran lilin, ada lilin yang terbakar dan ada lilin yang meleleh. Lilin yang meleleh termasuk perubahan fisika karena tidak menghasilkan zat baru. Adapun pada lilin yang terbakar, lilin tersebut berubah menjadi asap dan gas yang tidak terlihat oleh mata. Asap dan gas yang dihasilkan tidak dapat dikembalikan menjadi lilin. Perubahan-perubahan tersebut termasuk perubahan kimia. Pada perubahan kimia dihasilkan senyawa baru yang sifatnya berbeda dengan senyawa asal.
Perubahan kimia, yaitu perubahan materi yang menghasilkan zat baru.
Misalnya
: besi berkarat, kayu terbakar, buah menjadi busuk, dan lain-lain. Dalam perubahan kimia tidak hanya mengalami perubahan wujud, juga mengalami perubahan zat tetapi tidak mengalami perubahan massa. Perubahan kimia terjadi karena materi mempunyai sifat-sifat kimia. Perubahan kimia disebut juga reaksi kimia.
Reaksi kimia yang terjadi pada suatu zat dapat diketahui berdasarkan tanda-tanda
atau gejala-gejala yang menyertai reaksi tersebut.
a)    Gejala- gejala atau tanda-tanda yang menyertai reaksi kimia adalah sebagai berikut:
Terjadi perubahan warna, misalnya
: buah menjadi masak, besi berkarat, roti menjadi gosong, dan lain-lain.
b)   Terjadi perubahan suhu, misalnya : singkong menjadi tape, kedelai menjadi tempe, karbid disiram air, dan lain-lain.
c)    Terbentuk gas, misalnya : kertas dibakar, kompor menyala, karbid disiram air, sampah membusuk, dan lain-lain
d)    Terbentuk endapan, misalnya : susu menjadi basi, minyak menjadi tengik, batu kapur disiram air, dan lain-lain.
Perubahan Kimia dalam Kehidupan Sehari-hari dapat terjadi karena adanya pembakaran, pengaratan, pembusukan, fermentasi, pemasakan, fotosintesis, dan pengenziman.
a.       Perubahan Kimia karena Pembakaran
Pembakaran merupakan reaksi kimia antara materi yang terbakar dan gas oksigen. Pembakaran disebabkan adanya api. Selain menghasilkan abu dan gas, pembakaran materi juga menghasilkan energi. Misalnya, pembakaran lilin menghasilkan energi cahaya dan pembakaran bensin, solar menghasilkan energi gerak. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak ditemukan peristiwa jenis reaksi kimia ini. Misalnya, kayu, kertas, lilin, bensin, atau solar dibakar atau bom yang meledak.
b. Perubahan Kimia karena Pengaratan
Pengaratan merupakan reaksi kimia antara besi, gas oksigen, dan air. Reaksi kimia ini menghasilkan karat yang secara umum merupakan oksida logam. Pengaratan merupakan perubahan kimia karena Kompor berkarat menghasilkan zat baru. Besi (Fe) berubah menjadi karat besi (Fe2O3.nH2O). Sifat besi dan karat besi berbeda. Besi pagar yang berkarat akan rapuh dan mudah runtuh. Begitu juga dengan atap seng. Istilah yang digunakan untuk reaksi antara logam (selain besi), gas oksigen, dan air adalah korosi. Atap seng yang berkorosi akan mudah bocor jika terjadi hujan.
c. Perubahan Kimia karena Pembusukan
Pembusukan merupakan reaksi kimia yang diakibatkan mikroorganisme. Pada pembusukan, makanan berubah menjadi makanan yang berbau, berlendir, dan terkadang mengeluarkan gas. Misalnya, nasi yang basi atau roti yang berjamur. Kedua makanan yang membusuk tersebut tidak dapat berubah kembali seperti semula. Oleh karena itu, nasi yang basi dan roti yang berjamur telah mengalami perubahan kimia.
d. Perubahan Kimia karena Fermentasi
Fermentasi hampir sama dengan pembusukan, yaitu reaksi kimia karena pengaruh mikroorganisme. Pembusukan merupakan perubahan kimia yang merugikan karena materi menjadi rusak dan terbuang, sedangkan fermentasi merupakan perubahan kimia yang menguntungkan. Fermentasi termasuk perubahan kimia karena makanan yang difermentasi akan lebih lunak, lebih harum, dan rasanya berbeda. Misalnya, pada pembuatan tape ketan dan tape singkong. Tape ketan terbuat dan beras ketan, sedangkan tape singkong terbuat dan singkong. Dengan cara fermentasi, beras ketan dan singkong berubah menjadi tape. Tape mempunyai sifat yang berbeda dengan bahan pembuatnya. Selain itu, tape tidak dapat dikembalikan menjadi beras ketan atau singkong, nasi basi, pembuatan kecap. Lilin yang terdapat banyak dipasaran kebanyakan terbuat dari paraffin (paraffin wax). Paraffin adalah campuran dari Alkane (ikatan rantai molekul atom karbon dan atom hidrogen yang panjang) yang didapat dari minyak bumi. Paraffin akan meleleh pada suhu 50-60°C. Parafifin tidak dapat dinyalakan begitu saja dengan korek api. Untuk dapat terbakar paraffin membutuhkan temperatur tertentu dan sumbu. Apa yang terjadi, bila lilin diyalakan? Begitu sumbu lilin menyala, paraffin wax akan mencair. Dengan efek kapilaritas cairan wax akan ditransportasi naik keatas melalui sumbu ke nyala api. Panas api menyebabkan cairan wax menguap dan selanjutnya akan bercampur dengan oksigen sehingga terjadi proses pembakaran.Dalam proses pembakaran tersebut akan dihasilkan gas hasil pembakaran yang panas (CO2, H20,CO). Gas hasil pembakaran ini memiliki masa jenis yang lebih ringan dari udara sekitarnya (udara yang panas akan lebih ringan dari udara yang dingin). Perbedaan temperatur udara ini menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan udara, sehingga gas hasil pembakaran yang panas akan mengalir keatas (konveksi) dan udara dingin dibawahnya akan ditarik (dihisap). Konveksi Gas hasil pembakaran (warna merah=panas) naik keatas. Udara segar atau Oksigen ditarik dari bawah (warna biru=dingin) Konveksi ini menimbulkan efek, yang dikenal dengan nama efek chimney (efek cerobong). Efek ini menyebabkan nyala api dapat dipasok terus menerus dengan udara baru, sehingga proses pembakaran dapat terus berlangsung. Nyala lilin akan padam jika pasokan oksigen kurang dari 16%. Efek inilah yang menyebabkan udara mengalir ke atas, sehingga menyebabkan nyala api ke arah atas. Ini semua tentunya berlaku bagi semua proses pembakaran yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi (gaya tarik bumi). Fenomena mengenai proses pembakaran lilin ini sudah dibahas oleh Michael Faraday (ilmuwan ahli fisika dan kimia dari Inggris) tahun 1861.
IV.        Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan
Jumlah
LIlin
2 buah
Tempat Lilin
1 buah
Korek Api
1 buah
Penggaris
1 buah

V.           Cara Kerja
1.      Siapkan lilin, korek api dan penggaris
2.      Ukur panjang lilin menggunakan penggaris (sebelum dibakar), dan amati juga kualitas dari lilin tersebut menggunakan indera pengelihatan.
3.      Bakar lilin menggunakan korek api dan ukur berapa ketinggian lilin saat dibakar, dari 5 menit pertama sampai 25 menit, dan amati juga kualitas dari lilin tersebut menggunakan indera pengelihatan.
4.      Setelah dibakar, lilin dimatikan dan ukur kembali lilin menggunakan penggaris, serta amati juga kualitas dari lilin tersebut menggunakan indera pengelihatan.
VI.        Hasil Pengamatan
Fase
Kualitas / Indera
Kuantitatif / Alat Ukur
Sebelum dibakar
1.    Lilin putih / Mata
18,5 cm / penggaris
2.    Sumbu lilin putih / Mata
1,5 cm / penggaris
3.    Lilin putih+sumbu / Mata
20 cm / penggaris
4.    Diameter lilin / Mata
1,8 cm / penggaris
5.     Bentuk lilin silinder / Mata

Saat dibakar
1.    Lilin putih / Mata
Menit ke 5
·      Tinggi lilin : 17,5 cm
·      Tinggi api   : 1,7 cm
Menit ke 10
·      Tinggi lilin : 16,5 cm
·      Tinggi api   : 3,5 cm
Menit ke 15
·      Tinggi lilin : 16 cm
·      Tinggi api   : 3,8 cm
Menit ke 20
·      Tinggi lilin : 15,5 cm
·      Tinggi api   : 3 cm
Menit ke 25
·      Tinggi lilin : 15 cm
·      Tinggi api   : 3,5 cm
2.    Api kuning biru / Mata
3.    Sumbu lilin mulai menghitam / Mata
Setelah dibakar
1.    Lilin putih / Mata
14 cm / penggaris
2.    Bara api pada sumbu / Mata

3.    Asap dari sumbu / Mata

4.    Sumbu lilin hitam / Mata
1,5 cm / penggaris
5.    Terdapat lelehan lilin hanya di bagian atas / Mata


VII.     Pembahasan
Materi adalah sesuatu yang menempati ruang dan menempati massa. Materi sering juga disebut zat atau bahan. Istilah zat digunakan untuk sejumlah materi yang sangat spesifik (tertentu) sifat-sifatnya, contoh: gula, garam dapur, air dan sebagainya. Istilah bahan digunakan untuk sejumlah materi yang kurang spesifik, contoh; kayu, beras, kertas, sirop dan sebagainya. Materi di alam terdapat dalam tiga wujud, yaitu wujud gas, padat dan cair, contoh air dapat berwujud cair, gas (uap air) dan padat (es). Setiap materi mempunyai sifat-sifat yang berbeda.
Pembakaran lilin dapat digolongkan dalam perubahan materi. Perubahan Materi, Setiap materi akan mengalami perubahan. Perubahan materi meliputi: Perubahan fisika, yaitu perubahan materi yang tidak menghasilkan zat baru. Misalnya lilin dipanaskan, batu es mencair, besi meleleh, dan lain-lain. Pada umumnya perubahan fisika hanya mengalami perubahan wujud dan yang disertai dengan peerrubahan energi. Perubahan fisika terjadi karena materi memiliki sifat fisika. Sedangkan perubahan kimia, yaitu perubahan materi yang menghasilkan zat baru. Misalnya besi berkarat, kayu terbakar, buah menjadi busuk, dan lain-lain. Dalam perubahan kimia tidak hanya mengalami perubahan wujud, juga mengalami perubahan zat tetapi tidak mengalami perubahan massa. Perubahan kimia terjadi karena materi mempunyai sifat-sfat kimia. Perubahan kimia disebut juga reaksi kimia. Reaksi kimia yang terjadi pada suatu zat dapat diketahui berdasarkan tanda- tanda/gejala-gejala yang menyertai reaksi tersebut. Gejala- gejala atau tanda-tanda yang menyertai reaksi kimia adalah sebagai berikut:
1.        Terjadi perubahan warna, misalnya; buah menjadi masak, besi berkarat, roti menjadi gosong, dan lain-lain.
2.        Terjadi perubahan suhu, misalnya; singkong menjadi tape, kedelai menjadi tempe, karbid disiram air, dan lain-lain.
3.        Terbentuk gas, misalnya; kertas dibakar, kompor menyala, karbid disiram air, sampah membusuk, dan lain-lain
4.        Terbentuk endapan, misalnya; susu menjadi basi, minyak menjadi tengik, batu kapur disiram air, dan lain-lain.
Pada saat menyalakan sumbu lilin, lilin ada yang terbakar dan ada pula yang meleleh. Lilin dan basil lelehannya berwarna putih dan rapuh. Demikian juga dengan peleburan besi. Batang besi yang dipanaskan berubah menjadi besi cair. Cairan tersebut dialirkan ke dalam Lilin meleleh cetakan. Kemudian, dibiarkan dingin hingga terbentuk besi padat. Penjelasan-penjelasan tersebut merupakan contoh-contoh perubahan fisika.
Pada hasil pengamatan yang dilakukan ada 3 percobaan yaitu fase sebelum dibakar, saat dibakar dan setelah dibakar, dengan cara menentukan kualitas/indera dan kuantitatif/alat ukur. Pertama-tama,  untuk fase sebelum dibakar lilin berwarna putih dan tingginya 18,5 cm, sumbu lilin 1,5 cm, lilin putih+sumbu dengan tinggi 20 cm, dan bentuk lilin adalah silinder. Untuk fase saat dibakar kualitas/indera lilin berwarna putih, api berwarna kuning dan sumbu lilin mulai menghitam, dan untuk kuantitatif alat ukur, pada menit ke 5 tinggi lilin 17,5 cm dan tinggi api 1,7 cm, pada menit ke 10 tinggi lilin 16,5 cm dan tinggi api 3,5 cm, pada menit ke 15 tinggi lilin 16 cm dan tinggi api 3,8 cm, pada menit ke 20 tinggi lilin 15,5 cm dan tinggi api 3 cm, pada menit ke 25 tinggi lilin 15 cm dan tinggi api 3,5 cm. Sedangkan, untuk fase setelah dibakar tinggi lilin 14 cm dan sumbu lilin 1,5 cm, dan terdapat bara api pada sumbu, asap serta lelehan lilin hanya di bagian atas lilin.

VIII.  Kesimpulan
1.      Setelah diperoleh data diatas dapat disimpulkan bahwa lilin yang tadinya utuh, setelah dibakar (dihidupkan) selama 25 menit, panjang dan sumbunya berubah.
2.      Panjang lilin menjadi berkurang karena sebagian lilin mencair. Begitu juga panjang sumbu, panjang sumbu berkurang karena sebagian yang terbakar beruubah menjadi abu. Untuk warna lilin terlihat sebagian tercampur warna hitam. Hal ini dikarenakan abu dari sumbu jatuh ke lilin, bisa juga karena tercampur dengan asap hitam dari sumbu (jelaga). Untuk sumbunya sendiri ketika pembakaran dimulai langsung berubah warna menjadi hitam. Ada kemungkinan
IX.        Daftar Pustaka

0 komentar:

Poskan Komentar